Asa di Balik Debu Kopeang, Nestapa Persalinan di Jalan dan Urgensi Sinergi Medis bagi Kaum Marginal
- account_circle Ancha
- calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar

MAMUJU, Sulbarupdate.id – Di bawah langit Desa Kopeang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) yang berdebu, sebuah drama kemanusiaan yang menyesakkan dada kembali terulang.
Ratna, seorang ibu yang tengah bertarung dengan maut demi menghadirkan kehidupan baru, harus menerima kenyataan pahit. ia melahirkan di tengah perjalanan sebelum sempat menyentuh pintu fasilitas kesehatan, Jumat (24/04/2026).
Peristiwa ini bukan sekadar insiden medis, melainkan potret buram aksesibilitas kesehatan bagi masyarakat marginal di pelosok Sulawesi Barat.
Kisah Ratna adalah manifestasi dari ketimpangan yang masih menganga. Di saat modernitas medis diagungkan di pusat kota, warga di daerah terpencil seperti Kopeang masih harus bertaruh nyawa di atas tandu darurat atau kendaraan seadanya.
Minimnya sarana transportasi dan akses jalan yang terjal menciptakan isolasi yang mematikan.
Para pengamat kebijakan publik menilai, insiden ini merupakan “alarm keras” bagi sistem kesehatan nasional. Keterlambatan penanganan bukan disebabkan oleh ketiadaan kompetensi tenaga medis, melainkan oleh fragmentasi sistem yang belum mampu menjangkau hingga ke urat nadi pedalaman.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sulbar, Kombes Pol dr. Effri Susanto, menegaskan bahwa solusi tunggal tidak lagi relevan. Ia menyerukan pentingnya integrasi vertikal dan horizontal antar-instansi.
“Kita tidak boleh lagi bekerja dalam sekat-sekat sektoral. Peristiwa ini adalah momentum evaluasi holistik.,” Dr. Effri.
Menurutnya, sinergitas antara pemerintah daerah, otoritas kesehatan, dan aparat keamanan—khususnya melalui instrumen Kedokteran Kepolisian—menjadi imperatif untuk menjamin keselamatan warga di wilayah frontier.
Ia katakan, Dokkes Polri memiliki peran krusial dalam mengisi kekosongan (void) layanan pada situasi darurat. Melalui fungsi Kedokteran Kepolisian yang adaptif, kepolisian dapat bertindak sebagai unit respons cepat, baik dalam evakuasi medis maupun penyediaan layanan kesehatan lapangan di zona-zona yang sulit dijangkau secara konvensional.
Persoalan di Desa Kopeang menuntut transformasi nyata, bukan sekadar retorika pasca-kejadian.
Tragedi yang dialami Ratna adalah cermin retak dari cita-cita luhur kemerdekaan akan layanan kesehatan yang merata. Hak atas kesehatan adalah hak konstitusional yang tidak boleh terhalang oleh tebing yang curam atau jalan yang rusak.
Kasus Kopeang diharapkan menjadi katalisator bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk menata ulang arsitektur layanan kesehatan marginal.
Dengan integrasi yang kokoh dan sinergitas yang tulus, setiap nyawa—sekalipun ia berada di pucuk gunung terjauh—dapat terlindungi dengan martabat yang setara.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
