JK Ungkap Kunci Damai Aceh, Kalau Mualem Tak Mau, Senjata Tetap Meletus
- account_circle Ancha
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
- visibility 126
- comment 0 komentar

ACEH UTARA, Sulbarupdate.id – Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), membongkar rahasia di balik layar tercapainya perdamaian antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
JK menegaskan bahwa sosok Muzakir Manaf alias Mualem, yang saat itu menjabat Panglima Komando Pusat Operasi GAM, merupakan pemegang kunci utama penghentian kontak senjata di lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan JK saat menyerahkan bantuan kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) kepada Pemerintah Aceh yang diterima langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, di Aceh Utara, Senin (12/1/2026).
Menurut JK, proses negosiasi di tingkat atas tidak akan berarti jika pemegang komando senjata di hutan tidak sepakat untuk berdamai. Ia menyadari bahwa stabilitas keamanan di Aceh saat itu sangat bergantung pada restu Mualem.
“Pokok yang paling penting itu siapa yang pegang senjata. Walaupun di atas (pimpinan) mau, tapi kalau panglima tidak mau, itu susah. Kalau Mualem tak mau, senjata tetap meletus,” ujar JK dalam sambutannya yang kini viral di berbagai platform media sosial.
JK menjelaskan bahwa sejak awal dirinya bersikeras untuk menjalin komunikasi langsung dengan pimpinan GAM yang berada di Aceh, bukan hanya mereka yang berada di luar negeri.
Dalam upayanya mendekati Mualem, JK menempuh jalur yang tidak biasa. Mendapat informasi bahwa Mualem sangat patuh kepada ibundanya, JK kemudian memfasilitasi kehadiran sang ibunda ke Jakarta dengan bantuan mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh.
Melalui sambungan telepon, sang ibu berbicara langsung dengan Mualem yang saat itu masih berada di dalam hutan.
“Beliau berbicara di hutan dalam bahasa Aceh. Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan, tapi diterjemahkan oleh Pak Abdullah Puteh,” kenang JK.
Percakapan Satu Jam yang Menentukan
Momen krusial terjadi saat JK berbicara langsung dengan Mualem melalui telepon. Komunikasi tersebut berlangsung sangat intens dan menjadi titik balik arah sejarah Aceh.
“Lebih dari satu jam saya bicara. HP saya sampai panas, baterai habis,” ungkap Ketua Umum PMI tersebut.
Dalam percakapan tersebut, tercapai kesepahaman untuk mengakhiri konflik. JK menirukan komitmen Mualem kala itu: “Kesimpulannya kita mau damai. Soal pimpinan di luar negeri, terserah. Tapi kalau setuju, Bapak juga ikut setuju.”
Diplomasi ini kemudian menjadi fondasi kuat menuju penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005, yang secara resmi mengakhiri konflik bersenjata di Tanah Rencong yang telah berlangsung selama puluhan tahun.(*)
- Penulis: Ancha
