Distribusi Perdana Pasca Berhenti, SPPG Mehalaan Salurkan 2.118 MBG
- account_circle Whelson
- calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
- visibility 116
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Program Pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyapa masyarakat di Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, pada Rabu (29/4/2026).
Distribusi perdana setelah sempat vakum ini menyasar ribuan penerima manfaat, mulai dari pelajar hingga kelompok rentan.
Kegiatan ini di bawah pengelolaan Yayasan Pallawa Lipu Grup SPPG Mamasa Mehalaan Barat.
Guna memastikan kelancaran di lapangan, Bhabinkamtibmas Polsek Mambi, BRIPKA Hirwan, turun langsung memantau jalannya distribusi.
Kepala SPPG, Muh. Ridwan, mengungkapkan bahwa program ini melibatkan tim ahli yang komprehensif, mulai dari ahli gizi, akuntan, hingga sekitar 40 relawan.
Fokus utama program tidak hanya menyasar sektor pendidikan, tetapi juga kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
”Sasaran kami mencakup peserta didik dari tingkat PAUD hingga SMA, tenaga pendidik, anak tidak sekolah, hingga kelompok rentan 3B (Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui),” ujar Muh. Ridwan.
Berdasarkan data teknis, distribusi ini menjangkau 30 satuan pendidikan dengan rincian 1.143 siswa, 314 guru, dan 30 tenaga kependidikan.
Terdapat juga 40 orang dan 591 penerima di 12 posyandu atau 42 ibu hamil, 394 balita, dan 155 ibu menyusui.
Sehingga secara akumulatif, total penerima manfaat pada distribusi kali ini mencapai 2.118 jiwa.
Tak sekadar memberi makan, kualitas nutrisi menjadi prioritas utama. Menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, ayam kuah kuning, tahu kecap, tumis sayur, dan buah semangka.
Tim ahli gizi telah menghitung kadar kalori secara presisi. Porsi besar dirancang mengandung energi sekitar 1.187 kkal, sementara porsi kecil sebesar 960 kkal.
Komposisi ini diklaim telah memenuhi kebutuhan harian akan protein, lemak, karbohidrat, dan serat.
Meski secara keseluruhan berjalan tertib, tim di lapangan masih menghadapi tantangan distribusi yang cukup berat. Sejumlah titik sasaran sulit ditembus oleh kendaraan roda empat.
”Kondisi jalan yang masih berupa tanah, bergelombang, dan licin menjadi kendala utama dalam mobilisasi,” lapor BRIPKA Hirwan dalam pantauannya.
Hal ini menjadi catatan evaluasi bagi penyelenggara untuk memastikan distribusi berikutnya tetap tepat waktu meski di tengah keterbatasan infrastruktur.
Program ini diharapkan menjadi stimulus berkelanjutan untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah pelosok Kabupaten Mamasa.(*)
- Penulis: Whelson
- Editor: Ancha
