Pemda Mamasa Dinilai “Amnesia” Terhadap Longsor Desa Pangadaran
- account_circle Ancha
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 55
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Sudah memasuki pekan kedua sejak material longsor menutup akses utama menuju Desa Pangadaran, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa pada awal Mei 2025.
Namun, hingga kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa dinilai jalan di tempat dan belum menunjukkan langkah konkret untuk membuka akses yang menjadi urat nadi perekonomian warga tersebut.
Kelumpuhan total akses jalan ini mulai mencekik kehidupan masyarakat. Harga kebutuhan pokok merangkak naik akibat distribusi logistik yang terhenti total.
Di tengah keputusasaan, warga hanya bisa mengandalkan gotong royong dengan alat seadanya—sebuah upaya yang sia-sia melawan derasnya material tanah yang terus turun.
Kekecewaan masyarakat mencapai puncaknya hingga warga mulai menyuarakan kegelisahan mereka langsung kepada pemimpin tertinggi negara.
”Pak Presiden, tolong kami. Bantu juga buka akses jalan kami,” ujar Glori Talis, salah seorang warga Pangadaran.
Menurut Glori, sindiran tersebut adalah bentuk jeritan hati masyarakat yang merasa diabaikan oleh pemerintah daerahnya sendiri.
Ia mempertanyakan bagaimana program nasional bisa menyentuh wilayah mereka jika infrastruktur dasar dibiarkan lumpuh.
Kepala Desa Pangadaran, Agus Susanto, mengatakan bahwa pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada Pemkab Mamasa untuk meminta bantuan alat berat.
Namun, hingga berita ini diturunkan, harapan tersebut belum membuahkan hasil nyata di lapangan.
Saat ini tanah terus bergerak menutupi badan jalan, sangat membahayakan keselamatan warga.
Warga terpaksa mengangkat kendaraan roda dua secara manual untuk melewati titik longsor demi mendapatkan bahan makanan.
Banyak warga bertaruh nyawa menerobos titik rawan karena mendesaknya kebutuhan pangan.
Ketidakhadiran alat berat di lokasi bencana selama dua pekan menjadi rapor merah bagi manajemen tanggap darurat Pemkab Mamasa. Publik kini mempertanyakan komitmen Pemda dalam melindungi warga yang berada di wilayah terisolasi.
”Kami sudah berupaya maksimal dengan kemampuan terbatas. Tapi tanah terus turun, ini berbahaya bagi warga. Kami sangat membutuhkan kehadiran pemerintah melalui alat berat,” tegas Agus Susanto.
Masyarakat Pangadaran kini hanya bisa menunggu, apakah pemerintah daerah akan segera bertindak, atau membiarkan Desa Pangadaran terus terisolasi hingga krisis logistik benar-benar meledak?(***)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
