Kemarau Melanda, 8 Hektare Sawah Petani Mehalaan Barat Terancam Gagal Panen
- account_circle Hamsah
- calendar_month Kam, 1 Okt 2026
- visibility 144
- comment 0 komentar

Sawah milik petani di Rano Desa Mehalaan Barat Kecamatan Mehalaan Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat, mulai kekeringan akibat kemarau panjang. Foto/Hamsah
MAMASA, Sulbarupdate.id — Musim kemarau mulai memberi dampak serius terhadap pertanian warga di wilayah Rano, Desa Mehalaan Barat, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Kelompok Tani Rano Indah mengeluhkan kondisi tanaman mereka yang terancam gagal panen akibat kekurangan air.
Lahan persawahan seluas sekitar delapan hektare yang menjadi salah satu tumpuan petani kini mulai mengalami kekeringan. Tanah sawah tampak retak dan kering, sementara tanaman padi terlihat tumbuh tidak merata.
Ketua Kelompok Tani Rano Indah, Rusani, mengatakan kondisi tersebut membuat petani khawatir hasil panen mereka pada akhir tahun ini tidak sesuai harapan, bahkan berpotensi mengalami gagal panen.
“Kami khawatir dengan kondisi ini. Kalau kemarau terus berlangsung dan tidak ada air, padi kami terancam gagal panen,” ujar Rusani, kepada Sulbarupdate.id, Kamis (1/10/2026).

Tanaman Nilam milik petani di Rano Desa Mehalaan Barat Kecamatan Mehalaan Kabupaten Mamasa, mulai berdampak kemarau. Foto/Hamsah.
Dampak kekeringan, kata dia, tidak hanya dirasakan pada tanaman padi. Tanaman nilam yang selama ini menjadi salah satu tumpuan harapan ekonomi petani juga mulai kesulitan tumbuh akibat minimnya air.
Begitu pula dengan tanaman kakao milik warga. Kekeringan turut memberikan dampak terhadap tanaman perkebunan tersebut, sehingga menambah kekhawatiran petani terhadap pendapatan mereka.

Tanaman kakao milik petani di Rano Desa Mehalaan Barat Kecamatan Mehalaan Kabupaten Mamasa, juga mulai berdampak kemarau panjang. Foto/Hamsah.
Kondisi ini membuat petani menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Di satu sisi, tanaman padi membutuhkan air agar dapat bertahan hingga masa panen. Di sisi lain, tanaman nilam dan kakao yang menjadi sumber penghasilan masyarakat juga ikut terdampak akibat kondisi cuaca yang kering.
Rusani berharap pemerintah, khususnya Dinas Transmigrasi, dapat melihat langsung kondisi yang dialami masyarakat dan memberikan perhatian maupun langkah penanganan terhadap dampak kekeringan tersebut.
Menurutnya, bantuan atau intervensi pemerintah sangat dibutuhkan sebelum kondisi tanaman semakin memburuk dan kerugian petani semakin besar.
“Kami berharap pemerintah memperhatikan kondisi kami. Jangan sampai tanaman yang menjadi sumber penghidupan masyarakat semuanya terdampak karena kekeringan,” harapnya.
Bagi Kelompok Tani Rano Indah, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan berkurangnya hasil pertanian. Kemarau yang berkepanjangan kini mengancam beberapa sumber penghidupan sekaligus, mulai dari padi, nilam hingga kakao.
Petani pun berharap kondisi cuaca segera membaik dan pemerintah dapat mengambil langkah untuk membantu mereka menghadapi ancaman kekeringan tersebut.(***)
- Penulis: Hamsah
- Editor: Tim Redaksi
