Golkar di Persimpangan: Aras Teruji, 2029 Menjadi Ujian Assul
- account_circle Ancha
- calendar_month Sen, 19 Okt 2026
- visibility 89
- comment 0 komentar

MAMUJU, Sulbarupdate.id — Dalam politik, usia panjang tidak selalu menjadi jaminan kejayaan. Namun, kemampuan bertahan melewati badai zaman merupakan tanda bahwa sebuah partai memiliki akar yang tidak mudah tercerabut.
Di usia ke-62 tahun, Partai Golkar kembali dihadapkan pada pertanyaan lama dengan wajah baru yakni seberapa kuat akar beringin itu menghadapi ujian politik 2029?
Golkar memperingati hari jadinya pada 20 Oktober 2026, setelah berdiri pada Oktober 1964. Dalam perjalanan politik Indonesia, partai berlambang pohon beringin ini menjadi salah satu kekuatan politik yang mampu bertahan melewati pergantian rezim, perubahan konstelasi kekuasaan, hingga dinamika demokrasi pascareformasi.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, De Indische Partij berdiri pada 1912, digagas oleh tiga tokoh pergerakan, yakni Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ernest Douwes Dekker. Partai tersebut tidak berumur panjang setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda membubarkannya karena aktivitas politik para pendirinya dianggap membahayakan kekuasaan kolonial.
Di kawasan Asia Tenggara, Golkar juga memiliki kemiripan perjalanan dengan United Malays National Organisation (UMNO) di Malaysia. Partai tersebut pernah menjadi kekuatan dominan dalam pemerintahan Malaysia selama puluhan tahun, sebagaimana Golkar mendominasi politik Indonesia pada masa Orde Baru.
Di Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad menjadi salah satu figur politik yang identik dengan UMNO. Sementara di Indonesia, nama Akbar Tandjung menjadi salah satu ikon penting dalam perjalanan Golkar, selain Soeharto yang memiliki peran besar dalam membangun kekuatan politik Golkar selama Orde Baru.
Akbar Tandjung dan Seni Bertahan dari Badai Reformasi
Reformasi 1998 menjadi salah satu ujian paling berat dalam sejarah Golkar. Selama lebih dari tiga dekade berada di lingkaran kekuasaan, partai ini menghadapi gelombang kritik dan tuntutan pembubaran. Bagi sebagian kalangan reformis, Golkar dipandang sebagai salah satu penopang utama Orde Baru.
Di tengah tekanan tersebut, Akbar Tandjung mengambil peran penting dalam menjaga keberlangsungan partai. Ia memimpin Golkar pada periode 1998–2004, ketika masa depan partai itu belum sepenuhnya memperoleh kepastian.
Golkar berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, membangun konsolidasi, dan meyakinkan kader bahwa perubahan politik tidak harus berarti berakhirnya perjalanan sebuah partai.
Akbar turun ke daerah, mendatangi basis-basis kader, dan merawat jaringan politik yang masih bertahan. Di tengah stigma masa lalu, ia mencoba membangun kembali kepercayaan serta menegaskan bahwa Golkar tidak semata-mata bergantung pada kekuasaan.
Hasilnya tidak kecil. Pada Pemilu 1999, Golkar menempati posisi kedua setelah PDI Perjuangan. Lima tahun kemudian, pada Pemilu 2004, Golkar kembali menjadi partai dengan perolehan suara terbanyak.
Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa sebuah partai tidak selalu tumbang ketika kehilangan kekuasaan. Selama organisasi, kader, dan kemampuan membaca perubahan tetap terpelihara, peluang untuk bangkit masih terbuka.
Sejak reformasi hingga kini, Golkar mengalami pasang surut dalam percaturan politik nasional. Namun, partai ini berkali-kali menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan pemerintahan yang silih berganti.
Di situlah salah satu kekuatan Golkar: kemampuannya menjaga eksistensi di tengah perubahan kekuasaan, sekaligus merawat jaringan politik hingga ke daerah.
Bahlil dan Golkar di Tengah Sorotan
Kini, di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, Golkar kembali menjadi perhatian publik. Bahlil ditetapkan sebagai Ketua Umum Golkar melalui Musyawarah Nasional XI pada Agustus 2024.
Kepemimpinannya tidak lepas dari perdebatan. Sejumlah kalangan mempertanyakan dinamika yang mengantarkannya ke pucuk pimpinan partai, termasuk dugaan adanya pengaruh kekuatan politik di luar Golkar. Kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo saat itu turut memunculkan spekulasi mengenai hubungan kekuasaan dan arah politik partai.
Namun, dugaan dan penilaian politik semacam itu tetap perlu ditempatkan sebagai pandangan atau spekulasi yang membutuhkan dasar dan konfirmasi, bukan sebagai fakta yang telah terbukti.
Sorotan lain juga pernah tertuju pada proses akademik Bahlil di Universitas Indonesia, khususnya disertasi doktoralnya pada Sekolah Kajian Stratejik dan Global. Persoalan tersebut menjadi bagian dari perdebatan publik yang turut mengiringi perjalanan politiknya.
Terlepas dari berbagai kritik, tantangan bagi Bahlil bukan semata-mata menjawab cibiran. Ia harus membuktikan bahwa Golkar tetap menjadi rumah politik yang kokoh, bukan sekadar kendaraan yang bergerak mengikuti arah angin kekuasaan.
Sebab, pohon beringin tidak dinilai dari seberapa tinggi batangnya menjulang, melainkan dari seberapa kuat akarnya bertahan ketika angin datang dari berbagai penjuru.
Golkar Sulbar: Trengginas atau Keropos?
Di Sulawesi Barat, pertanyaan tentang kekuatan Golkar menemukan bentuk yang lebih konkret. Pergantian kepemimpinan dari Haji Aras Tammauni kepada Syamsul Mahmud, yang akrab disapa Assul, bukan sekadar pergantian nama di pucuk organisasi.
Perubahan tersebut juga menjadi pertaruhan mengenai arah dan masa depan kekuatan politik Golkar di daerah.
Aras Tammauni merupakan figur senior yang memiliki pengaruh dalam politik Sulawesi Barat. Di bawah kepemimpinannya, Golkar mencatatkan capaian elektoral yang patut diperhitungkan pada Pemilu dan Pilkada 2024.
Partai ini mampu mengungguli Demokrat dalam perolehan kursi DPRD Provinsi Sulawesi Barat. Golkar juga berhasil mengantarkan kandidat yang didukungnya memenangi kontestasi di sejumlah kabupaten pada Pilkada 2024.
Capaian tersebut menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan kepemimpinan Aras di tingkat daerah. Namun, Golkar belum berhasil memperoleh kursi DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Barat pada Pemilu 2024. Fakta ini memperlihatkan bahwa keberhasilan di tingkat lokal tidak otomatis berbanding lurus dengan kekuatan di tingkat nasional.
Di sinilah pergantian kepemimpinan Golkar Sulbar menjadi menarik untuk dibaca. Aras, yang selama ini menjadi salah satu figur sentral partai, tidak lagi berada di pucuk pimpinan. Posisi tersebut kini diemban Syamsul Mahmud.
Keputusan itu dapat dipandang sebagai langkah penyegaran organisasi, sekaligus perjudian politik dalam menyiapkan Golkar menghadapi agenda elektoral berikutnya.
Jika pergantian tersebut dimaksudkan untuk menjawab kelemahan Golkar dalam merebut kursi DPR RI, maka kepemimpinan Assul akan menghadapi pekerjaan yang tidak ringan.
Ia bukan hanya dituntut mempertahankan capaian yang telah dirintis pendahulunya, tetapi juga membuktikan bahwa Golkar mampu memperluas pengaruhnya di luar basis-basis tradisional.
Kabupaten Polewali Mandar, yang dipimpin Assul, merupakan salah satu wilayah dengan jumlah pemilih terbesar di Sulawesi Barat. Posisi itu memberinya modal politik yang penting. Namun, besarnya basis pemilih tidak dengan sendirinya menjamin kemenangan.
Assul memang telah melewati ujian Pilkada dan memperoleh mandat sebagai kepala daerah. Akan tetapi, memimpin pemerintahan dan mengonsolidasikan partai merupakan dua pekerjaan berbeda. Keduanya membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, merawat kepercayaan, membaca aspirasi masyarakat, serta menyatukan kepentingan kader yang tidak selalu seragam.
Pemilu 2029 kelak akan menjadi ruang pembuktian yang lebih luas. Apakah Golkar Sulbar mampu mempertahankan dominasi di daerah sekaligus menembus kembali parlemen nasional, atau justru mengalami kemunduran setelah pergantian kepemimpinan?
Jawabannya tidak cukup ditentukan oleh popularitas seorang ketua. Ia akan bergantung pada kekuatan struktur partai, soliditas kader, kemampuan merekrut dukungan, serta keberanian membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Kacamata Assul dan Ujian Keterbukaan
Dalam politik, cara seorang pemimpin memandang realitas sering kali sama pentingnya dengan keputusan yang diambilnya.
Pemimpin yang mampu melihat persoalan dari berbagai sudut akan lebih mudah membaca perubahan. Sebaliknya, mereka yang membatasi pandangan berisiko terjebak dalam kenyataan yang hanya terlihat dari lingkaran terdekatnya.
Assul kini memegang tanggung jawab besar sebagai Ketua DPD Golkar Sulawesi Barat. Ia akan menjadi salah satu figur yang menentukan bagaimana partai ini menata langkah menuju 2029.
Namun, kepemimpinan tidak hanya diuji melalui hasil pemilu. Keterbukaan terhadap kritik, kesediaan berdialog, dan kemauan mendengar suara publik juga menjadi bagian penting dari ukuran kepemimpinan.
Komunikasi dengan insan pers, misalnya, merupakan salah satu ruang untuk menjelaskan kebijakan, mengklarifikasi persoalan, dan menyampaikan arah organisasi kepada masyarakat. Jika komunikasi semacam itu tidak terbangun dengan baik, ruang kosong dapat diisi oleh pertanyaan, dugaan, dan penafsiran yang beragam.
Dalam konteks tersebut, kebiasaan Assul yang dinilai kurang terbuka dalam komunikasi langsung dengan sejumlah pihak, termasuk insan pers, menjadi catatan yang layak dijawab melalui praktik keterbukaan yang lebih baik.
Kacamata yang dikenakan seorang pemimpin semestinya membantu memperjelas pandangan, bukan menjadi tirai yang membatasi hubungan dengan kenyataan di sekelilingnya.
Tentu, penilaian mengenai keterbukaan seorang pemimpin perlu diuji melalui fakta, pengalaman pihak-pihak terkait, dan kesempatan untuk memberikan penjelasan. Namun, dalam demokrasi, pertanyaan publik bukanlah ancaman bagi kepemimpinan. Ia justru dapat menjadi cermin untuk melihat bagian-bagian yang luput dari perhatian.
Sebab, pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah dikritik, melainkan mereka yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi tanpa kehilangan arah.
Menanti Rimbun Beringin pada 2029
Enam dekade lebih perjalanan Golkar mengajarkan bahwa kekuatan politik tidak selalu tumbuh lurus. Ada masa ketika partai berada di puncak kekuasaan, ada pula masa ketika keberadaannya dipertanyakan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi dan merawat kepercayaan merupakan modal penting untuk bertahan.
Bagi Golkar Sulawesi Barat, era Assul akan menjadi babak baru yang hasilnya belum dapat dipastikan. Aras telah meninggalkan catatan capaian politik yang dapat dijadikan pijakan sekaligus bahan evaluasi. Assul kini memiliki kesempatan untuk melanjutkan, memperbaiki, dan memperluas capaian tersebut.
Tantangannya jelas: menjaga agar pergantian kepemimpinan tidak berakhir sebagai pergantian figur semata, melainkan melahirkan konsolidasi yang lebih kuat dan hasil elektoral yang lebih baik.
Apakah beringin Golkar akan semakin lebat daunnya pada 2029? Ataukah perubahan kepemimpinan justru menjadi awal dari keroposnya akar yang selama ini menopang partai?
Waktu akan memberikan jawabannya. Namun, sebelum suara rakyat kembali menentukan arah, Golkar Sulbar masih memiliki ruang untuk membuktikan bahwa kekuatan partai tidak hanya bertumpu pada nama besar para pemimpinnya, tetapi juga pada kemampuan mereka merawat kader, membuka komunikasi, dan menjawab harapan masyarakat.
Selamat memperingati hari jadi ke-62 Partai Golkar. Semoga perjalanan panjang itu tidak sekadar menjadi kebanggaan atas masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap kejayaan selalu menyimpan ujian baru.
(Hamsah/Ancha) — Sarman Sahuding
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
