BBM Langka Hampir Sebulan di Majene, Warga Desak Aparat Usut Dugaan Penyelewengan
- account_circle Juita
- calendar_month Ming, 27 Sep 2026
- visibility 309
- comment 0 komentar

MAJENE, Sulbarupdate.id — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dikeluhkan masyarakat karena telah berlangsung hampir satu bulan. Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) disebut masih terjadi hingga Minggu (27/9/2026).
Kelangkaan terutama dikeluhkan pada BBM jenis Pertalite dan Solar. Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar guna menunjang aktivitas sehari-hari.
Di tengah kondisi itu, warga juga mengeluhkan harga BBM di tingkat pengecer yang disebut mengalami kenaikan. Salah seorang warga mengaku harus membayar sekitar Rp35 ribu untuk mendapatkan BBM secara eceran.
Situasi tersebut kemudian memunculkan dugaan di tengah masyarakat mengenai kemungkinan adanya praktik penyelewengan dalam distribusi BBM. Warga meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kelangkaan dan pola distribusi BBM di wilayah Majene.
Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku melihat aktivitas pengisian BBM menggunakan jeriken dalam jumlah banyak di salah satu SPBU di Majene.
Menurut warga tersebut, pengisian menggunakan jeriken dapat mencapai puluhan jeriken dalam satu kali aktivitas. Ia mempertanyakan apakah seluruh pengisian tersebut telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Banyak jeriken yang dilakukan pengisian, bahkan bisa sampai puluhan jeriken. Mereka seperti bebas melakukan pengisian,” ungkapnya kepada Sulbarupdate.id, Senin (28/9/2026).
Warga itu juga menduga adanya pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi tersebut. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan serta penyelidikan aparat berwenang.
Kelangkaan BBM disebut turut berdampak terhadap masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk mencari nafkah, seperti pengemudi ojek, kurir, pedagang sayur hingga warga yang setiap hari mengantar anak ke sekolah.
“Ini sudah parah sekali. Kasihan masyarakat yang berprofesi sebagai ojek, kurir, tukang sayur, termasuk yang mengantar anak sekolah. Mereka harus menghabiskan waktu untuk antre di Pertamina,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Andi Ermin. Ia mempertanyakan adanya kendaraan yang menurut pengamatannya berulang kali mengantre dan melakukan pengisian BBM hingga tangki penuh.
“Habis antre, masuk antre lagi. Tiap hari mobil isi full. Logikanya, Pertalite itu diapakan dalam sehari sampai habis? Diminum atau dipakai mandi? Itulah sebenarnya pelansir yang setiap hari antre isi full tangki lagi,” kata Andi Ermin.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan dugaan warga yang belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai adanya praktik pelansiran atau penyelewengan BBM. Kepastian mengenai hal itu membutuhkan pemeriksaan berdasarkan data dan bukti oleh pihak berwenang.
Sementara itu, dalam kegiatan inspeksi mendadak (sidak), pihak PT Pertamina Patra Niaga menyampaikan bahwa dugaan praktik mafia BBM merupakan ranah aparat penegak hukum.
Pertamina menyebut penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran hukum menjadi kewenangan aparat apabila ditemukan indikasi yang memenuhi unsur pelanggaran.
Di sisi lain, Manajer SPBU Lembang, Hasan Basri, menyampaikan bahwa stok BBM, baik Solar maupun Pertalite, di sisi Pertamina dalam kondisi tersedia.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat meminta Polda Sulawesi Barat dan Polres Majene menelusuri persoalan distribusi BBM secara menyeluruh, mulai dari pasokan hingga penyaluran kepada konsumen.
Warga berharap pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada tingkat SPBU, tetapi juga mencakup pola pembelian berulang menggunakan kendaraan maupun jeriken, termasuk memastikan apakah aktivitas tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Masyarakat juga meminta agar setiap dugaan pelanggaran ditindak sesuai hukum apabila nantinya ditemukan bukti yang cukup. Sebaliknya, apabila tidak ditemukan pelanggaran, pemerintah maupun pihak terkait diharapkan memberikan penjelasan mengenai faktor yang menyebabkan antrean dan kelangkaan BBM terus terjadi.
Hingga berita ini diterbitkan, dugaan adanya praktik mafia atau penyelewengan BBM di Majene belum terbukti secara hukum.
Publik menunggu penjelasan dan langkah konkret dari pihak berwenang untuk menjawab persoalan kelangkaan BBM yang telah berlangsung hampir sebulan, termasuk mengenai ketersediaan stok, pola distribusi, serta penyebab antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Majene. (*)
- Penulis: Juita
- Editor: Hamsah
